Thursday, December 20, 2012

Medical student in France


Melalui IFMSA (International Federation of Medical Student Association), saya berkesempatan untuk melakukan pertukaran pelajar ke Clermont Ferrand, Perancis, yang merupakan ibukota dari regio tersebut dan satu-satunya kota di yang memiliki universitas kedokteran. Saya mendapat kontrak untuk belajar di departemen Obstetry and Gynecology di CHU Estaing. Departemen Obstetry Geynoecology di CHU Estaing merupakan salah satu yang terbaik di seluruh Perancis, dan mereka sering mendapat pelajar dari negara lain sehingga komunikasi dan penerimaan mahasiswa asing bukan hal yang baru. Semua civitas rumah sakit sangat hangat dan ramah sehingga membuat suasana kegiatan di rumah sakit terasa menyenangkan.
Beberapa istilah mengenai tingkatan pendidikan di Perancis: Extern adalah mereka yang duduk di tahun ke 4, 5 dan 6. Dimana mereka harus menghabiskan 6 minggu di rumah sakit, dan 6 minggu setelah berada di rumah sakit mereka mengikuti kuliah dan kegiatan kampus lainnya (termasuk dengan membahas kasus yang berada di rumah sakit). Hal ini berlangsung terus menerus sampai seluruh departemen telah mereka lalui. Dalam hal ini, mereka bagaikan koas di Indonesia, yang bedanya koas akan terus berada di RS tanpa harus kembali ke universitas, dan koas tidak dibayar sedangkan extern dibayar. Intern adalah mereka yang menjalankan pendidikan di jenjang spesialis, dan layaknya residen di Indonesia. 
Ada beberapa hal yang saya perhatikan mengenai perbedaan sistem pendidikan di Perancis, yakni : 
-Pakaian. 
Professional behaviour adalah sesuatu yang sangat dijunjung tinggi oleh kampus-kampus di Indonesia, yang pakaian merupakan salah satu kriterianya. Mahasiswa Indonesia tidak diperbolehkan menggunakan jeans dan celana pendek atau rok pendek,  baju tanpa lengan, dan tidak diperbolehkan menggunakan sendal. Hal ini saya anggap wajar karena dokter merupakan panutan bagi pasien dan sudah seharusnya dan sewajarnya berpakaian rapi dan bersih dan terlihat profesional. Namun, mahasiswa Perancis diperkenankan menggunakan itu semua dengan catatan mereka menggunakan jas putih mereka diatas itu. Hal ini cukup mencengangkan saya karena mereka tampak santai dengan balutan tersebut yang ditutupi oleh jas putih kebesaran mereka. Namun hal ini membuat saya tersadar bahwa culture yang mereka miliki sudah berbeda dan perspective orang-orang mengenai hal ini pun sudah sangat berbeda. Dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung.  
-      Pembagian jadwal kedatangan extern dan intern
Para extern akan menyesuaikan kebutuhan akan kehadiran mereka di RS. Apabila yang dibutuhkan hanya 2 extern dari 4 yang berjaga di departemen tersebut, maka mereka akan bergantian dan yang lainnya memiliki hari kosong. Tidak seperti mahasiswa di Indonesia yang mewajibkan semua koasnya untuk datang. Namun hal ini tentu sangat berbeda karena pasien yang mereka miliki jauh lebih sedikit dari pasien yang ada di Indonesia. 
-Ujian masuk kedokteran dan ujian Spesialis
Seluruh siswa di Perancis berhak mengikuti ujian masuk kedokteran. Tahun pertama mereka akan belajar hal yang dasar seperti biokimia, fisika, matematika dsb. Dan di tahun berikutnya mereka akan mendapat hasil ujian yang ber-ranking. Hanya yang berada di urutan 150an yang berhak melanjutkan studinya di kedokteran. Bagi mereka yang gagal namun masih berada di ranking tertentu dapat melanjutkan studinya di kedokteran gigi, atau kedokteran hewan atau keperawatan. Dan apabila mereka menginginkan untuk mengulang, mereka diperbolehkan untuk mecoba 1 kali. Bila mereka gagal maka mereka harus mengubah pilihan kuliah mereka.
Untuk program spesialisasi, setelah tahun ke 6, mahasiswa akan menjalani ujian nasional untuk berlomba-lomba mendapat ranking terbaik disana.  
 
-Bahasa
Bahasa yang mereka gunakan adalah bahasa Perancis, dengan text book berbahasa Perancis. Mereka tidak terbiasa dengan bahasa Inggris dikarenakan hal tersebut dan sistem pendidikan bahasa Inggris di Perancis memang dianggap kurang. Mereka tidak terbiasa mendegar kata-kata bahasa Inggris, bahkan di bioskop, film Hollywood pun di dubbing dengan bahasa mereka. Di bangku sekolah, mereka dapat memilih bahasa kedua mereka , namun Inggris bukan bahasa yang dianggap wajib oleh mereka.  
-Agama
Rumah sakit di Perancis memiliki suatu aturan bahwa petugas medis tidak diperbolehkan menunjukan identitas keagamaan mereka seperti berjilbab atau menggunakan kalung bersalib, dsb. Saya bersyukur berada di ruang operasi sehingga saya menggunakan scrub untuk menutupi rambut saya. Saya pernah berada di ruang konsultasi dan sang dokter berbaik hati mengizinkan saya berada disana tanpa harus melepaskan hijab saya.

No comments:

Post a Comment